Feeds:
Tulisan
Komentar

Buaya DiCicakin…

saya-cicak-berani-lawan-buayaMembaca judul artikel diatas barangkali sedikit aneh ditelinga. Kita lebih sering mendengar istilah buaya dikadalin tidak buaya dicicakin  heheh…

“Buaya” dalam kehidupan sehari hari dianalogikan kepada hal-hal yang cenderung negatip seperti penipu,tukang boong tukang selingkuh. Contohnya simak aja lagu Duo Maia “Buaya darat”, syairnya berbunyi:  Lelaki Buaya darat busyet aku tertipu lagi…:D

Buaya dicicakin ini muncul dalam ribut ribut antara Polisi dengan KPK dalam perumpamaan buaya vs cicak. Dalam persoalan ini ditunjukkan rasa kesal buaya dengan ulah cicak yang melangkahi kebuayaan mereka. Buaya merasa sudah menjadi ikon dari tukang kibul kini coba dikakangi cicak kecil.jelas ga terima dong. Sebaiknya sesama tukang kibul jangan saling mengkibulin lah begitu barangkali keinginan sang “buaya”, cukup buaya aja yang jadi buaya, predikat yang selama ini sudah melekat pada mereka,  jangan coba coba diambil alih oleh cicak lagi yang pengen jadi buaya.

Terakhir dalam rapat dengar pendapat POLRI dengan komisi 3 kemarin, jurus kibul buaya ini keluar lagi. Buayanya ngeluarin air mata yang disebut “air mata buaya” mo ngibulin siapapun yang bersimpati padanya .. ayo siapa lagi yang bakal kena tipu air mata buaya…

Sekilas tentang EVA

CSL2058EVA, yang jelas ini bukan nama cewek:D, adalah singkatan dari Economic Value Added yaitu suatu konsep penilaian kinerja keuangan perusahaan yang dikembangkan oleh Stem Stewart & Co. Konsep ini memfokuskan perhatian ke upaya penciptaan nilai perusahaan dan menilai kinerja keuangan perusahaan secara adil yang diukur dengan mempergunakan ukuran tertimbang (weighted) dari struktur modal awal yang ada sehingga diharapkan dapat memperoleh hasil perhitungan pada upaya penciptaan nilai perusahaan (Creating a Firms value) yang lebih realistis.

Dapat dikatakan bahwa EVA ini merupakan suatu alat analisis finansial untuk menilai profitabilitas yang realistis dari operasi perusahaan dengan mempergunakan biaya modal dalam perhitungannya. Selain itu EVA juga mempertimbangkan dengan adil harapan para penyandang dana, melalui perhitungan biaya modal tertimbang dari struktur modal perusahaan.

Konsep EVA sebenarnya merupakan konsep baru yang dikembangkan dari konsep lama yaitu biaya modal (cost of capital). Konsep ini digunakan untuk mengetahui berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan sebagai akibat dari penggunaan dana untuk pembelian barang dan modal kerja. Definisi tersebut mengidentifikasikan bahwa biaya modal merupakan tingkat pengembalian yang harus dicapai oleh perusahaan agar dapat menutup beban finansial atas penggunaan sumber dana jangka panjangmya.

EVA dapat ditentukan dengan menghitung:
1. cost of debt
2. cost of common stock
3. struktur permodalan dari neraca
4. NOPAT
5. Tingkat pengembalian (Return)
6. Biaya modal rata-rata tertimbang

Manfaat EVA antara lain adalah :
1. EVA berkorelasi positif dengan tingkat pengembalian investasi dalam saham. Dengan demikian para pemegang saham akan memperoleh penghasilan yang lebih besar bila EVA perusahaan milik mereka meningkat.
2. EVA berkorelasi negatif dengan tingkat perputaran pimpinan eksekutif perusahaan. Data-data menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki EVA di bawah median industri memiliki tingkat perputaran sebesar 19,3% sedangkan perusahaan-perusahaan yang memiliki EVA diatas median industri hanya memiliki tingkat perputaran sebesar 9%, sehingga layaklah jika para pimpinan eksekutif perusahaan berlomba-lomba meningkatkan EVA untuk menyelamatkan posisi mereka yang umumnya disertai dengan gaji yang menggiurkan.
3. EVA membantu para manajemen puncak perusahaan untuk memfokuskan kegiatan usaha mereka, yaitu memperoleh EVA setinggi mungkin agar para pemegang saham mendapatkan penghasilan yang maksimal. Fokus ini sangat membantu mengurangi konflik yang umum terjadi antara pihak manajemen dan pemilik perusahaan.

Meskipun demikian konsep inipun tak luput dari kelemahan, antara lain;
1. Hanya mengukur hasil akhir (result), konsep ini tidak mengukur aktivitas-aktivitas penentu seperti loyalitas dan tingkat retensi konsumen.
2. Terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan pendekatan fundamental dalam mengkaji dan mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham tertentu, padahal faktor-faktor lain terkadang justruk lebih dominan.
3. Konsep ini sangat tergantung pada transparansi internal dalam perhitungan EVA secara akurat.

Dengan demikian konsep EVA mampu mendorong manajer untuk meningkatkan nilai perusahaan. Selain itu sebagai pengukur kinerja perusahaan, EVA juga secara langsung menunjukkan seberapa besar perusahaan telah menciptakan nilai bagi pemilik modal, hal ini juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran manajer bahwa tugasnya adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan serta meningkatkan nilai pemegang saham dan bukannya untuk mencapai tujuan yang lain.

Pustaka: Dari berbagai Sumber

elena-desserichIni adalah kisah inspiratif yang ditayangkan di  CNN pekan lalu. Cerita yang sangat emosional dan menyentuh hati bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Dikisahkan, tepat sebelum ulang tahun keenam, Elena Desserich, didiagnosa menderita kanker otak dan diperkirakan usianya tinggal 135 hari untuk hidup. Dia mampu bertahan selama 255 hari, sebelum akhirnya meninggal pada tahun 2007 yang lalu. Setelah kematiannya, orangtua Elena, Brooke dan Keith, menemukan ratusan catatan dari Elena tersembunyi di sekitar rumah – di antara tumpukan CD, rak buku, di laci lemari, di ransel ….

“Ini terasa seperti pelukan hangat darinya, seperti ingin mengatakan bahwa dia sedang mencari kami”

Elena mulai menyembunyikan ratusan surat cinta kecil di sekitar rumah untuk orangtuanya untuk ditemukan setelah ia pergi. Elena meninggalkan ratusan catatan seperti ini:

elena-desserich-notes-left-behind1elena-notes-left-behind2

elena-desserich-notes-left-behind3

Orangtua Elena kini telah menerbitkan catatan ini dalam sebuah buku berjudul “Notes Left Behind” untuk mendanai sebuah organisasi nirlaba The Cure Starts Now didedikasikan untuk melawan kanker otak pediatrik.

Saya pikir ini cerita yang luar biasa dari seorang gadis kecil yang harus pergi meninggalkan keluarga untuk selama lamanya. Mungkin gadis kecil ini tahu dia akan mati dan ia mencintai orangtuanya sehingga dia ingin mereka tetap mengingatnya bahkan setelah ia meninggal.

VIDEO Memory:: An amazing girl named Elena

Spam Pada Artikel Blog

smileyPada tulisan terdahulu “TNI/POLRI Wajib Bayar” saya menerima banyak sekali comment2 spam khusus kedalam tulisan tersebut didalam blok saya. Saya tidak mengerti, apakah ini semacam “perang intelijen” dari pihak pihak yang tidak senang atau bukan:)  sehingga bagi pengunjung yang membaca akan terjangkit virus kedalamnya. Barangkali tulisan tersebut telah membuat pihak pihak terkait tidak merasa enjoy, silahkan saja,namun saya belum punya pikiran untuk mendelete tulisan tersebut dari blog saya. Sekian

Rollercoaster Saham

Main saham itu hampir sama seperti naik rollercoaster. Kalo lagi turun semua pada teriak-teriak, kalo pas menanjak pada diem deg-degan nunggu pembalikan arah.
Bagi yang gak berani naik biasanya cuma nonton aja,  ada yang mentertawakan saat orang teriak-teriak, ada pula yang ikut tegang pas ngeliat lagi nanjak.
rollercoaster

bumi-resources-tbkBumi Resources Tbk, atau lebih dikenal dengan BUMI adalah saham yang fenomenal, bisa dibilang salah satu indikator IHSG. Hampir tiap hari selalu no 1 top value, selisih dengan yang dibawahnya bisa sangat jauh. Saham mana lagi yg dalam sehari nilai total transaksinya bisa sampai 3 Trilyun lebih.

BUMI ini menjadi fenomenal karena pergerakan sahamnya senantiasa menjadi sorotan serta begitu menghipnotis seluruh bursa efek. Kalo BUMI Naik BEI naik dan sebaliknya BUMI turun, BEI pun ikut ikutan turun, sehingga membahas BEI rasanya tidak lengkap kalau tidak melihat BUMI.

Buat yang berjiwa spekulatif saham ini wajib dimiliki, dijamin pasti ada naik turunnya & fluktuasinya cepat karena tiap hari nilai transaksi besar. Banyak yg suka BUMI bukan karena perusahaan batubara atau investasi, tapi karena pergerakanya yang seru bak rollercoaster sehingga banyak yg meraih untung dari pergerakanya dibanding saham sejenis.  Yang lain mesti nunggu digoreng, itupun habis digoreng kadang sepi lagi sehingga kurang menarik. Kalau chicken disaranin gak usah main saham ini, karena berada didaerah sensitif “rawan gempa” apakah gempa politik, gempa issue, dll

Saya yakin hedge fund asing manapun kalau main saham di indonesia tidak mungkin melewatkan BUMI, mereka yg sekali main puluhan atau bahkan ratusan milliar, kalau saham lain susah mau jual dengan nilai segitu.

Memang sekarang isu BUMI sedang jelek sekali, kebanyakan utang, beban bunga selangit. Bayangkan saja utangnya mencapai US$1,5 milyar dengan bunga 12% / tahun, padahal seharusnya suku bunga USD sangat kecil. Untuk bayar bunganya saja 1 trilliun lebih/tahun. Tapi sisi positifnya expansi terus, kalau harga komoditas tambang naik saham ini bisa terbang lagi. Misalnya nanti ada kabar ternyata utangnya dibelikan tambang emas bukan nggak mungkin harga bisa tembus ke 4000 lagi, hopefully itu terjadi, soalnya kalo BUMI naik gila-gilaan, saham2 lain juga bisa terkerek naik. Mengenai apakah BUMI bisa kembali ke highestnya di 8000an, semoga sebelum 2012 sudah kesampaian. Nggak lucu dong kalo misalnya beneran KIAMAT 2012 tapi masih nyangkut di BUMI :D

Manajemen Stress

“Hidup sudah susah jangan dibuat susah lagi apalagi ditambah”

Ini adalah sedikit cerita mengenai manajemen stress. Stephen covey, Penulis 7 habits yang terkenal itu, pada saat memberikan kuliah tentang manajemen-stressmanajemen stress, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: “Seberapa berat menurut anda kira-kira segelas air ini?”

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. “Ini bukanlah masalah berat absolutenya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya.” kata Covey. “Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya”. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”

“Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya.” lanjut Covey. “Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi”. Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Bukan berat Beban yang membuat kita stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. – Stephen Covey -

Dari berbagai Sumber

Humor Bankir vs Debitur

Bankir itu, jika debitur cuma berutang Rp 100 juta dan macet, akan mengirim debt collector untuk menggertak dan mengancam:D.
Sebaliknya, jika debitur berutang Rp 100 miliar, justru si bankir yang ketakutan setengah mati. Jika perlu, ia terus memberi utang baru agar si debitur tak bangkrut.
Bankruptcy3

Oleh: Nofie Iman

“Let me issue and control a nation’s money and I care not who writes the laws.” —-Mayer Amschel Rothschild

“I believe that banking institutions are more dangerous to our liberties than standing armies.” —-Thomas Jefferson

“It is well enough that people of the nation do not understand our banking and money system, for if they did, I believe there would be a revolution before tomorrow morning.” —-Henry Ford

100-DollarAsal mula bank bisa ditelusur dari Inggris abad pertengahan (900-1000 M) yang waktu itu dikuasai oleh para money changer atau goldsmith. Sederhana saja. Di masa itu, menenteng emas kemana-mana selain tidak aman juga repot. Oleh karena itu pemilik emas menitipkan emasnya kepada goldsmith. Mereka kemudian membuat semacam nota sebagai bukti kepemilikan emas. Lambat laun, proses ini menjadi lebih berkembang. Nota kepemilikan tadi bisa dipindahtangankan sebagai alat tukar tanpa perlu tanda tangan pemiliknya. Inilah yang menjadi cikal bakal uang fiat seperti yang kita kenal sekarang.

Sayangnya, cuma ada sedikit pemilik emas yang mau menitipkan emasnya. Akibatnya, para goldsmith juga tidak bisa mencetak uang (nota) sebanyak mereka mau karena setiap “uang” yang mereka buat harus sebanding dengan deposit emas yang ada. Tapi para goldsmith pun tak kurang akal. Mereka mulai mencetak lebih banyak “uang” dari emas yang ada dan meminjamkannya dengan bunga tertentu. Inilah cikal bakal sistem yang disebut sebagai fractional reserve banking.

Bisnis ini tentu saja sangat menguntungkan. Misalkan goldsmith bersedia membayar bunga 5% terhadap emas yang Anda setor kepada mereka. Di saat yang sama, mereka meminjamkan uang kepada orang lain dengan bunga yang sama, 5% juga, namun dengan jumlah hingga 10 kali dari jumlah emas yang Anda depositkan. Jadi, keuntungan yang mereka dapatkan sebesar 50% dikurangi 5% bunga yang dibayarkan kepada Anda, atau 45%. Tentu saja ini angka yang sangat konservatif. Bagaimana kalau mereka membayar Anda cuma 2-3%, sementara mereka meminta bunga dari orang lain sebesar 8-10%?

Hal ini tak cuma membuat goldsmith mengendalikan peredaran uang, tapi juga mengendalikan perekonomian dan aset yang dimiliki orang-orang. Caranya adalah dengan mengatur jumlah/sirkulasi uang fiat yang beredar. Misalnya, uang yang beredar di masyarakat dibuat berlimpah, namun kemudian dikurangi atau dihentikan tiba-tiba. Akibatnya, ada sejumlah orang yang kesulitan membayar pinjamannya. Dengan cara begini, goldsmith bisa menarik paksa aset yang dimiliki para peminjam yang gagal bayar dengan harga murah.

Pada 3 Agustus 1100, King Henry 1 memerintah Inggris dan mengambil alih kekuasaan money changer/goldsmith. Ia membuat bentuk uang baru yang dinamai tally stick. Sesuai namanya, uang ini berwujud sebatang kayu yang dipoles dan diberi tanda tertentu. Batang kayu ini kemudian dibelah dua dimana satu disimpan oleh raja, sementara potongan lainnya beredar di masyarakat. Rakyat hanya bisa membayar pajak dengan menggunakan tally stick. Cara ini dianggap ideal karena tidak ada bunga dan peredaran uang dikendalikan oleh raja yang tidak bersifat oportunis.

Kita tahu bahwa dalam perekonomian Islam tidak ada istilah bunga. Di Eropa abad pertengahan, riba (usury) juga dianggap kriminal oleh gereja. Biarpun ada sejumlah mata uang jenis baru yang diperkenalkan, tally stick sendiri bertahan hingga 1826. Tapi selama 700 tahun itu bukan berarti sistem uang berbunga juga musnah. Tahun 1642, para money changer berkongsi membayari Oliver Cromwell untuk membuat revolusi di Inggris dan mengembalikan kekuasaan membuat uang kepada para money changer namun gagal. Lalu, 40 tahun kemudian, mereka membiayai invasi William of Orange terhadap Inggris dan berhasil.

Kehabisan uang karena perang, pemerintah Inggris kemudian meminta pinjaman pada para money changer. Sebagai imbalannya, money changer meminta pemerintah untuk menghukum bank swasta lain yang mencetak uang. Money changer kemudian membentuk “Bank of England” dengan menyetor modal koin emas senilai £1,25 juta pada pemerintah. Nama tersebut dipilih untuk “menipu” publik agar bank tersebut seolah-olah milik pemerintah. Biarpun konon cuma sekitar separonya saja yang disetor, tapi mereka mulai mencetak uang sebanyak mereka mau. Sampai saat ini bahkan tidak ada yang tahu siapa investor rahasia di balik Bank of England tersebut.

Bank sentral dari waktu ke waktu juga berevolusi. Dari semula mereka meminjamkan kepada individu, kemudian mereka lebih suka meminjamkan uang kepada pemerintah. Alasannya, jumlahnya lebih besar juga lebih aman karena di-backup oleh pajak yang dibayar rakyat kepada pemerintah. Alhasil bank sentral dari waktu ke waktu bertumbuh makin besar. Sebaliknya, utang pemerintah kepada Bank of England yang semula cuma £1,25 juga melonjak jadi £16 juta hanya dalam waktu 4 tahun. Karena jumlah uang beredar begitu besar, lahirlah inflasi yang menyebabkan nilai (value) uang kian surut dari waktu ke waktu.

Akibat dari inflasi, kekayaan seseorang akan terus menyusut dari waktu ke waktu. Mereka kemudian meminjam uang kepada bank demi memenuhi kebutuhannya. Tentu saja, bank bisa seenaknya membatasi peredaran uang yang menyebabkan sejumlah orang gagal bayar dan bangkrut. Bank kemudian menarik aset-aset yang dimiliki orang tersebut. Jelas bahwa inflasi sebenarnya merugikan semua orang, kecuali bank yang bisa mencetak uang. Karena secara teori, mereka bisa create money out of nothing. Inilah penyakit yang terus diwariskan hingga saat ini.

Bicara soal bank sentral, maka kita tak bisa lepas dari nama Mayer Amschel Rothschild. Tak cuma mendirikan money changer sendiri, ia juga mendidik lima orang anaknya untuk membuat “bisnis” serupa. Pengaruh Rothschild tak cuma ada di Inggris, tapi juga di Amerika, Perancis, Jerman, dan sejumlah negara lainnya. JP Morgan adalah salah satu agennya yang kemudian mendirikan bank sendiri. Sejumlah agen Rothschild yang lain mendirikan Bank of International Settlement (BIS) di Swiss. Keluarga Rothschild juga punya pengaruh besar terhadap IMF dan World Bank.

Bankir-bankir tersebut memang punya power yang luar biasa besar. Mereka bisa memaksa pemerintah untuk membuat peraturan yang menguntungkan mereka—-misalnya Coinage Act dan Sherman Law yang membatasi pembuatan koin, Aldrich Bill dan Glass-Owen Bill tentang legalisasi pencetakan uang, maupun Federal Reserve Act 1913 tentang pendirian Federal Reserve. Konon, bahkan presiden seperti Theodore Roosevelt, Woodrow Wilson, sampai JF Kennnedy “dibunuh” karena tidak mau memberikan dukungan pada bankir Federal Reserve. (Note: “Bankir” yang saya maksud di sini bukan bankir kelas “ecek-ecek” seperti Citigroup, apalagi bankir yang membawa kabur duit nasabah Century.)

Besarnya kekuatan para bankir tersebut juga bisa dilihat dari Black Thursday atau The Great Depression 1929. Milton Friedman, peraih nobel ekonomi, mengatakan bahwa depresi tersebut disebabkan karena Federal Reserve sengaja memangkas peredaran uang menjadi sepertiga dari tahun 1929 hingga 1933. Sejarah juga mencatat jelas bahwa orang-orang besar seperti John Rockefeller, Bernard Baruch, atau JP Morgan sudah lebih dulu menjual sahamnya dan meletakkan aset mereka dalam bentuk kas atau emas sesaat sebelum depresi. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi terhadap krisis 1998 maupun resesi keuangan yang terjadi tahun lalu.

Joseph Stiglitz (World Bank) punya formula penyembuhan krisis yang terkenal: privatisasi, liberalisasi pasar modal, pemberlakuan market-based pricing, dan perdagangan bebas. Formula ini memang merugikan banyak pihak, terutama dari negara-negara berkembang di Asia , Amerika Latin, atau Afrika. Tapi tentu saja ada yang diuntungkan dari formula tersebut, yaitu para bankir. Saat ini, cadangan emas terbesar dimiliki oleh IMF—-jauh lebih besar dari yang dimiliki bank-bank sentral. IMF dan World Bank juga menangguk untung luar biasa besar dari pinjaman yang diberikan kepada negara-negara berkembang, termasuk dari privatisasi sektor-sektor strategis di negara-negara tersebut.

bankAkibat efek dari sistem uang dengan bunga-berbunga (compounding interest), secara teori, setiap penduduk Amerika punya utang sekitar $80 ribu kepada para bankir tersebut. Milton Friedman mengusulkan sebuah solusi dimana pencetakan uang mustinya dikembalikan kepada pemerintah, semua bentuk utang segera dilunasi, dan pemerintah harus menjaga agar inflasi maupun deflasi tidak terjadi. Efeknya, pajak yang dibayarkan rakyat akan menurun dan mereka tidak lagi terbebani lilitan bunga utang yang menggunung. Masih untung bank sentral di Indonesia dikuasai pemerintah, bukan swasta seperti halnya di Amerika atau di negara-negara lain. Tapi bukan berarti kita 100% aman. Apalagi Bank Indonesia seperti “negara” yang punya kekuasaan sendiri.

Lalu, apa yang bisa kita perbuat sekarang? Jujur saja, tidak banyak. Tapi yang pasti, usahakan untuk menghindari utang, apapun bentuknya, apalagi utang yang tidak bersifat produktif dan berbunga tinggi. Hiduplah sederhana dan bersahaja, dengan living standard yang wajar. Kalau Anda punya kekayaan berlebih, pertimbangkan untuk diversifikasi dalam bentuk lain seperti logam mulia atau properti. Pertimbangkan juga menyimpan aset dalam mata uang lain, selain Rupiah atau Dollar. Tapi yang juga tak kalah penting adalah educate yourself, educate your family, educate your friends. Kita semua perlu membangun society yang paham bagaimana uang itu dibentuk, bagaimana manipulasi sistem ekonomi ini terjadi, dan bagaimana jalan keluar atas persoalan ini.

Sumber: Unpublished Dream
Oleh:  Socrates Rudy Sirait, PhD

Bulan February 2009 yang lalu di dalam satu tulisan yang berjudul Worst Than Nothing atau Better Than Nothing? – saya sedikit mengulas mengenai esensi krisis keuangan yang bersumber dari keserakahan, kebejatan moral dan kebohongan terstruktur.

judi2Tulisan kali inipun tidak jauh dari krisis keuangan di US dan tidak jauh pula dari keinginan saya menyatakan kembali bahwa ketiga hal tersebutlah yang telah dan akan terus membawa ekonomi US menyentuh titik terburuk dalam satu dekade mendatang bila pemerintah US dan sebagian besar ekonom US tidak melakukan koreksi kebijakan dan titik pandang pemulihan krisis secara segera. Titik terburuk tersebut adalah malapetaka hyperinflation.

Hyperinflation? Satu hipotesa yang saat ini masih dianggap kecil kemungkinan (atau bahkan tidak mungkin) terjadi oleh sebagian besar ekonom. Saya sendiri termasuk satu dari kelompok yang beranggapan bahwwa potensi terjadinya hyperinflation di US adalah relatif tinggi. Tentu saja ini dengan berbagai asumsi yang mengikuti.

Memang sungguh tidak mudah membayangkan terjadinya hyperinflation di US – membayangkan sebuah negara adidaya dalam satu dekade ke depan dapat terjerembab dan tersungkur dimana nilai mata uangnya merosot drastis, terjadi pengangguran dimana mana, kemiskinan menyebar, negara terperangkap dalam hutang dengan jumlah yang sangat besar, dan sering kali diikuti oleh krisis politik serta krisis social. Mungkin lebih sulit dibanding pada saat 2007 kita membayangkan indeks Dow terkoreksi 50 persen dimana di Maret 2009 ternyata menjadi kenyataan.

Mungkin mendengar argumentasi hyperinflation di US saja, sebagian pihak yang kontra hyperinflation akan segera menyanggah dengan menunjuk bahwa saat ini di pasar saham US telah terjadi bullish market dimana kenaikan indeks Dow dan S&P di 2009 dianggap sebagai tonggak terjadinya pemulihan ekonomi di US. Silahkan saja. Saya pribadi melihat kenaikan itu sebagai bentuk classic bounce in a long-term bear market. Sehingga tidak lama lagi akan indeks mereka akan kembali mengalami penurunan.

Lalu indikasi kuat yang manakah yang memperlihatkan kemungkinan terjadinya hyperinflation? .

Point Pertama dan terpenting adalah kebijakan pemerintahan Obama yang konsisten melakukan defisit spending bahkan lebih agresif dari pemerintahan Bush. Defisit spending terjadi akibat besarnya kebutuhan dana untuk membiayai program stimulus dan pemulihan ekonomi US.

Akibat program stimulus dan pemulihan ekonomi tersebut maka public debt di US per awal semester II 2009 telah mencapai sekitar USD 11.6 trillion. Suatu angka yang luar biasa besar dan perlu diketahui bahwa akumulasi terbesar mulai terjadi sejak tahun 2008 dan masih akan terus berlangsung di tahun mendatang. Di tahun 2008, total biaya bunga atas keseluruhan hutang US adalah USD 452 billion. Angka yang luar biasa besar, tidak terbayang apabila dihitung dalam Rupiah.

Ironisnya, hampir seluruh program stimulus dan pemulihan ekonomi ini dirancang untuk mendapatkan efek pemulihan yang cepat. Caranya adalah dengan meningkatkan konsumsi masyarakat. Boleh dikatakan hanya sedikit program yang dirancang untuk menciptakan kesempatan kerja dalam jangka panjang.

Di dalam suatu perekonomian yang mengalami krisis berkepanjangan maka peningkatan konsumsi tidak memiliki efek multiplier yang kuat terhadap pemulihan ekonomi. Permintaan pasar yang tercipta hanyalah bersifat sementara dan tidak didukung oleh adanya peningkatan pendapatan dari konsumen dalam jangka panjang.

Dalam situasi yang sama, sebagian stimulus diberikan tidak secara gratis melainkan melalui suatu insentif yang dapat digunakan saat membeli produk tertentu seperti program Cash for Clunkers. Akibatnya insentif tersebut dapat menyebabkan sebagian masyarakat terjebak dalam hutang baru tanpa memiliki daya bayar tambahan.

Di sisi lain, program stimulus dan pemulihan ekonomi ini hampir seluruhnya didanai melalui kombinasi antara cetakan uang baru dan pinjaman dari berbagai negara kreditur dimana yang terbesar adalah diberikan oleh China.

Menurut data yang dikeluarkan oleh CIA, per 2008 posisi public debt dari US adalah ranking ke 24 sedangkan Indonesia berada di ranking 77. Di 2008 posisi public debt hanyalah 61 persen dari GDP. Jadi bila menggunakan data yang sama maka public debt US di 2009 telah berada di 10 besar negara dengan ratio public debt terhadap GDP tertinggi. Siapa saja di 10 negara tersebut? Zimbabwe, Japan, Lebanon, Jamaica, Italy, Singapore, Greece, Sudan, Belgium dan Egypt. Hanya beberapa dari negara ini yang saat ini perekonomiannya relatif stabil sisanya dalam keadaan krisis bahkan beberapa dalam keadaan krisis akut. Perlu diketahui bahwa semakin besar hutang suatu negara maka semakin besar pula kemungkinan mata uang negara tersebut mengalami kemerosotan nilai atau devaluasi.

Ada beberapa pertanyaan yang dapat menjadi bahan pertimbangan bersama. Bagaimana cara pemerintahan melakukan pemotongan pengeluaran bila mereka masih akan terus melakukan program stimulus dan pemulihan ekonomi? Darimana akan diperoleh pendanaannya? Bagaimana jika negara kreditur berhenti untuk menyediakan pinjaman? Bagaimana cara pemerintah US membayar hutang serta bunga di waktu mendatang? Apa yang akan terjadi bila efek dari stimulus telah memudar yang berarti konsumsi kembali menurun? Apakah dengan mencetak uang kembali adalah jawaban yang tepat?

Point Kedua adalah pergerakan terjadinya inflasi di US mulai terlihat dengan terjadinya penurunan nilai USD baik terhadap mata uang kuat lainnya maupun terhadap emas. Ini sebenarnya wajar terjadi karena semakin besar hutang yang diciptakan maka secara alamiah nilai matauang akan semakin merosot. Menjadi tidak wajar karena nilai devaluasi semakin membesar dalam hitungan waktu yang semakin singkat. Sehingga ini mengarah kepada potensi terjadinya currency crisis di US dalam beberapa tahun mendatang.

Di sisi lain, merosotnya nilai USD akan menciptakan efek kenaikan harga pada seluruh barang import. Ini pada akhirnya akan menciptakan inflasi yang sesungguhnya di sektor riil melalui kenaikan harga barang dasar. Bila nantinya ditangani dengan memberikan bantuan likuiditas kepada masyarakat maka bantuan tersebut akan kembali menciptakan efek penurunan nilai yang berikut. Sebaliknya bila dilakukan pencegahan kenaikan harga melalui pematokan harga maka akan terjadi kelangkaan barang yang berpotensi membawa harga barang semakin mahal.

Dengan posisi USD relatif terhadap harga emas (dan komoditas lainnya) yang semakin menurun maka akan terjadi kecenderungan pelaku investasi akan beralih dari pasar saham dan matau uang kepada pasar komoditas. Ini akan menyebabkan harga emas semakin mahal (sekaligus mendorong naiknya harga silver, nickel, coal, copper dan komoditi lain) dan sebagai akibat nilai USD akan semakin terdorong ke bawah. Hal ini telah sering dikemukakan oleh Jim Rogers, Marc Faber dan Peter Schiff.

Apa yang akan terjadi bila kebijakan cetak uang terus berlangsung, stimulus terfokus pada peningkatan konsumsi, harga emas dan komoditi melambung dan sektor industri di US tidak mampu bangkit? Bagaimana bila disertai berhentinya dana dari negara kreditur?

Terdekat adalah currency crisis, double digit inflation dan ambruknya pasar saham di US.

Point Ketiga, mari kita lihat unemployment rate di US saat ini. Bila program stimulus dan pemulihan ekonomi selama dua tahun terakhir lebih menekankan kepada sektor produktif ketimbang sektor konsumtif maka seharusnya terjadi penurunan pengangguran secara berangsur. Paling tidak efek tersebut dapat terlihat walaupun mungkin masih kecil. Apakah demikian adanya? Jawabannya adalah tidak.

Unemployment rate yang secara resmi disampaikan terakhir adalah 9.7% pada pertengahan September yang lalu. Banyak pihak menyatakan bahwa angka ini tidak mencerminkan angka sebenarnya. Mengapa? Karena angka ini tidak mengikut sertakan faktor independent contract, faktor pekerja full time yang sekarang bekerja part time dan faktor pengangguran yang berhenti mencari kerja. Sehingga menurut kalkulasi beberapa sumber, bila dihitung semuanya adalah sekitar 17 persen! Mengerikan!

Seberapa parahkah tingkat pengangguran di US bahkan bila dibandingkan dengan tingkat pengangguran di Indonesia di 1998? Mengapa pemerintahan Obama memilih untuk fokus pada health care program dibanding program yang bertujuan untuk menciptakan pekerjaan baru? Bagaimana mungkin dalam setahun mendatang tingkat pengangguran akan mengalami penurunan secara drastis? Apakah kita semua yakin bahwa di 2010 akan terjadi penciptaan kesempatan kerja baru yang luar biasa besar sehingga angka pengangguran berkurang?

Dari ketiga point di atas, maka saya berkesimpulan bahwa bila pemerintahan Obama tidak segera melakukan perubahan drastis di dalam kebijakan stimulus dan pemulihan ekonomi maka dalam waktu tiga sampai lima tahun mendatang negara paman Sam berpotensi tinggi untuk mengalami double digit inflation dengan trend semakin meningkat.

Bila kejadian tersebut tidak ditangani dengan restrukturisasi hutang secara tepat, pemotongan budget secara besar2an dan tidak terjadi kebangkitan di sektor industry maka ekonomi US akan terperangkap dalam hyperinflation.

Secara ringkas…
Apa yang terjadi di Dow dan S&P saat ini adalah classic bounce in the long term bear market – Rising Dow is not a signal of economic recovery – Hanyalah masalah waktu menuju ke bawah kembali

Harga emas dan komoditi lain akan terus meningkat seiring dengan melemahnya nilai tukar USD sebagai mata uang kuat dunia dan mata uang jangkar dalam perdagangan global

Potensi terjadinya currency crisis di US dan double digit inflation dalam 3 sampai 5 tahun mendatang

Terjadinya peralihan investasi secara signifikan dari US dan negara kuat lainnya menuju negara di Asia yang memiliki sumber daya alam kuat

Bursa bursa di Asia terutama di China, India dan Indonesia akan mengalami kenaikan dalam jangka panjang akibat kenaikan harga komoditas dan peralihan lokasi investasi

Obat terbaik bagi pemerintahan dan ekonomi US adalah kembali ke kittah, there is no free lunch in the world, there is no new economic paradigm. Tidak akan mungkin keluar dari perangkap hutang dengan menciptakan setumpuk hutang baru. Akhir dari keserakahan, kebejatan moral dan kebohongan terstruktur hanyalah penderitaan berkepanjangan.

Tulisan Sebelumnya »