Moneycentral dalam salah satu artikelnya, “The Dollar’s Down Decade” menyatakan: “The greenback’s decline has cut deeply into Americans’ buying power over the past 10 years, raising fears of a complete collapse“. Baca Lebih Lanjut
USD saat ini terus mengalami depresiasi, karena volume perdagangan global yang menurun cukup drastis. Sebagai mata uang perdagangan global ketika perdagangan sepi otomatis demand USD juga turun yang akhirnya menekan harga. Yang menarik bahkan the Fed’s malah memberi signal bahwa mereka tidak akan menaikkan suku bunga dalam jangka pendek dan menengah dengan maksud menekan USD terus turun untuk bantu ekonomi dalam negerinya. Kenapa the Fed ingin USD yang lemah? Ini untuk ‘memaksa’ rakyat US yang terkenal doyan belanja supaya berhemat. USD yang lemah membuat barang2 impor semakin mahal, sehingga memaksa mereka beli produk dalam negeri. USD yang lemah ditambah deflasi di pasar domestik juga akan membuat US menarik untuk investor2 asing, kapan lagi bisa beli property di US dengan harga murah seperti saat ini.
Sekarang US sengaja menekan Cina untuk lepas USD-nya. Cina punya cadangan devisa senilai US$2.3 Triliun. 70% dari cadangan devisa itu dalam bentuk USD. Bila dihubungkan dengan cerita yang diatas, return Cina atas asset USDnya ini menjadi minus, dengan kata lain nilainya turun. Sekarang coba bayangkan, 1.61 triliun asset USD Cina, nilainya terus turun. Apakah Cina nggak akan buang untuk diganti dengan yang lain? Tentu Cina harus melakukan sesuatu demi hartanya itu. Dengan investasi di tempat yang lain. Sekarang pertanyaannya adalah kemana?
Apakah mungkin Cina beli asset di US? Saya kira nggak mungkin. Untuk apa Cina buang USDnya untuk beli asset di US. Kan asset di US dihargai dengan USD, sama aja boong, buang USD untuk beli USD yang lain. Inilah barangkali yang menyebabkan harga gold naik. Bukan karena Cina benar2 beli gold, tapi beli gold pakai USD, salah satu cara untuk buang USDnya. Makanya spekulasi di pasar menyatakan Cina bakal beli gold sehingga gold permintaannya tinggi.
Namun ada sebagian orang mengatakan bahwa Cina nggak akan lepas USDnya malah keeps buying USD. Salah satu kunci kesuksesan china adalah nilai tukar mata uang mereka yang stabil. Investor suka dengan kepastian. Nilai tukar yang stabil menjamin bahwa biaya operasional tetap stabil. Sehingga yang ada mereka akan bikin rumor akan melepas, tapi nyatanya tetep beli terus, lain di mulut lain di hati. Cina memborong USD untuk menjaga mata uangnya tetap lemah. Yuan yang lemah mendorong ekspor Cina, karena produk2 Cina menjadi lebih murah di pasaran dunia. Buruh2 di Cina itu dibayar dengan Yuan yang murah bukan mata uang lain. Demikian juga ketika Yuan murah investor berbondong2 membuka industri padat karya di Cina. Jadi tidak bisa dibilang Cina akumulasi USD untuk investasi, mereka melakukan ini karena tidak ada cara lain yang bisa membuat mata uang mereka murah. Oleh karena itulah Dominique Strauss-Kahn, Direktur IMF, sampai menghimbau China “to let yuan appreciate, the sooner the better” dengan cara lepasin cadangan USDnya.
“China tightly control its currency by pegging it to the dollar – benefiting domestic exports- and has so far resisted please to allow it rise.”
Trading partner terbesar China adalah US, dan USD juga adalah patokan yang digunakan untuk menentukan mata uang china, jadi kalau USDnya dijual nilai yuan akan naik terhadap semua mata uang.
Kalau china melepas USD-nya mereka harus cari obyek baru untuk lindung nilai, kalau memilih Yuan jelas tidak efektif karena Yuan tidak banyak diminati di pasar global. Emang ada eksportir yang mau dibayar Yuan? Kalopun ada harus punya cara buang barangnya, misalnya punya usaha di china, baru mereka mau. Kalau yuan digunakan untuk beli mesin dari Jerman, jelas ga laku. Salah satu solusi lain bagi China adalah akumulasi Euro, walaupun bukan tanpa kendala, diantaranya adalah EU nggak akan tinggal diam kalau mata uangnya diborong. Negara2 tonggak EU seperti Jerman, Perancis, dll. mereka itu juga bergantung kepada ekspornya. Kalau Euro naik terus, harga produk mereka jadi tidak kompetitif. Demikian juga dengan JPY sebetulnya juga punya ‘market caps’ yang besar, namun secara historis china tidak suka dengan Jepang karena pernah dijajah, pembelian JPY akan menciptakan kontroversi politik. Namun begitu china mulai buang USD nya, USD turun lebih cepat lagi..






Membaca judul artikel diatas barangkali sedikit aneh ditelinga. Kita lebih sering mendengar istilah buaya dikadalin tidak buaya dicicakin heheh…
EVA, yang jelas ini bukan nama cewek
Ini adalah kisah inspiratif yang ditayangkan di CNN pekan lalu. Cerita yang sangat emosional dan menyentuh hati bagi siapa saja yang menyaksikannya.

