EVA, yang jelas ini bukan nama cewek
, adalah singkatan dari Economic Value Added yaitu suatu konsep penilaian kinerja keuangan perusahaan yang dikembangkan oleh Stem Stewart & Co. Konsep ini memfokuskan perhatian ke upaya penciptaan nilai perusahaan dan menilai kinerja keuangan perusahaan secara adil yang diukur dengan mempergunakan ukuran tertimbang (weighted) dari struktur modal awal yang ada sehingga diharapkan dapat memperoleh hasil perhitungan pada upaya penciptaan nilai perusahaan (Creating a Firms value) yang lebih realistis.
Dapat dikatakan bahwa EVA ini merupakan suatu alat analisis finansial untuk menilai profitabilitas yang realistis dari operasi perusahaan dengan mempergunakan biaya modal dalam perhitungannya. Selain itu EVA juga mempertimbangkan dengan adil harapan para penyandang dana, melalui perhitungan biaya modal tertimbang dari struktur modal perusahaan.
Konsep EVA sebenarnya merupakan konsep baru yang dikembangkan dari konsep lama yaitu biaya modal (cost of capital). Konsep ini digunakan untuk mengetahui berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan sebagai akibat dari penggunaan dana untuk pembelian barang dan modal kerja. Definisi tersebut mengidentifikasikan bahwa biaya modal merupakan tingkat pengembalian yang harus dicapai oleh perusahaan agar dapat menutup beban finansial atas penggunaan sumber dana jangka panjangmya.
EVA dapat ditentukan dengan menghitung:
1. cost of debt
2. cost of common stock
3. struktur permodalan dari neraca
4. NOPAT
5. Tingkat pengembalian (Return)
6. Biaya modal rata-rata tertimbang
Manfaat EVA antara lain adalah :
1. EVA berkorelasi positif dengan tingkat pengembalian investasi dalam saham. Dengan demikian para pemegang saham akan memperoleh penghasilan yang lebih besar bila EVA perusahaan milik mereka meningkat.
2. EVA berkorelasi negatif dengan tingkat perputaran pimpinan eksekutif perusahaan. Data-data menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki EVA di bawah median industri memiliki tingkat perputaran sebesar 19,3% sedangkan perusahaan-perusahaan yang memiliki EVA diatas median industri hanya memiliki tingkat perputaran sebesar 9%, sehingga layaklah jika para pimpinan eksekutif perusahaan berlomba-lomba meningkatkan EVA untuk menyelamatkan posisi mereka yang umumnya disertai dengan gaji yang menggiurkan.
3. EVA membantu para manajemen puncak perusahaan untuk memfokuskan kegiatan usaha mereka, yaitu memperoleh EVA setinggi mungkin agar para pemegang saham mendapatkan penghasilan yang maksimal. Fokus ini sangat membantu mengurangi konflik yang umum terjadi antara pihak manajemen dan pemilik perusahaan.
Meskipun demikian konsep inipun tak luput dari kelemahan, antara lain;
1. Hanya mengukur hasil akhir (result), konsep ini tidak mengukur aktivitas-aktivitas penentu seperti loyalitas dan tingkat retensi konsumen.
2. Terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan pendekatan fundamental dalam mengkaji dan mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham tertentu, padahal faktor-faktor lain terkadang justruk lebih dominan.
3. Konsep ini sangat tergantung pada transparansi internal dalam perhitungan EVA secara akurat.
Dengan demikian konsep EVA mampu mendorong manajer untuk meningkatkan nilai perusahaan. Selain itu sebagai pengukur kinerja perusahaan, EVA juga secara langsung menunjukkan seberapa besar perusahaan telah menciptakan nilai bagi pemilik modal, hal ini juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran manajer bahwa tugasnya adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan serta meningkatkan nilai pemegang saham dan bukannya untuk mencapai tujuan yang lain.
Pustaka: Dari berbagai Sumber