” Editorial Jakarta Globe edisi 5 Mei kemaren menulis soal Sri Mulyani dan kepindahannya ke Bank Dunia, judulnya seperti ini: Indonesia’s Loss, the World Bank’s Gain Baca lebih lanjut disini”
Saya sendiri nggak terlalu ambil pusing Jeung Sri ini mau pindah atau dipindah entah kemana pun juga. Pun perkara jabatan Menteri Perekonomian yang ditinggalkannya mau diisi siapa. Toh ga mungkin juga SileBaY bakal pilih saya jadi penggantinya
,betul? Yang jelas Indonesia pasti punya cara untuk survive. Walau indeks harga saham langsung melorot 95,58 poin atau sekitar 3,2 persen, tapi yakin itu nggak akan berpengaruh terlampau lama.
Saya terus terang lebih pusing ngelihat gimana pemerintahan SileBaY ini memperlakukan hukum. Pemerintahan ini selalu digadang-gadang sebagai pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum. Kalo ngomong soal korupsi, pemerintahan ini seperti ingin dilegendakan sebagai pemerintahan yang paling menaruh perhatian terhadap penegakan hukum untuk kasus-kasus korupsi.
Memang kalo dilihat secara statistik, tingginya kasus korupsi yang diajukan ke pengadilan dan pelakunya dihukum dalam masa pemerintahan SileBay harus diakui sebagai sebuah catatan prestasi. Namun bila dikaji lebih lanjut, catatan itu tidak terlalu mentereng seperti yang dikesankan. Khususnya, persoalan keberpihakan pemerintah terhadap penegakan hukum, tetap tidak dapat dikatakan punya prestasi yang dapat dibanggakan.
Kasus Sri Mulyani ini misalnya, menimbulkan pertanyaan besar mengenai persoalan penegakan hukum kasus Century, dimana Sri ditengarai sebagai salah satu aktor besar yang harus memikul pertanggungjawaban hukum atas kasus tersebut.
Ada beberapa kemungkinan yang meliputi kepindahan jeung Sri Mulyani ke bank dunia, kemungkinan pertama:
Selama ini Jeung sri cuman dijadiin ‘boneka’ oleh silebay. Ketika Bang Robert Zoellick meminta beliau bergabung, ini semacam exit permit yang manis untuknya. Jeung Sri itu orang pinter, semua orang juga saya mengakui. Artinya secara kualitas memang yahud, oke punya. Tapi kecerdasannya diperalat untuk menyelamatkan bank century, yang katanya agar duit Budi Sampoerna (“penyokong demokrat”) yang nyangkut di Bank Century bisa selamat. Sri juga pernah bilang sama JK kalo dia ditipu BI (Bank Indonesia , dimana dirutnya saat itu dijabat Mr.Boed) karena BI tidak memberikan keterangan yg sebenarnya mengenai kondisi Bank tersebut.
Orang seidealis dan secerdas Sri lama-lama ya gerah juga, daripada pusing mikirin urusan dalam negeri yang mumet sambil harus pasang badan nyelametin muka tembem atasannya, mendingan ngurusin Warung Bang Robert Zoellick lah. Makanya kiranya tidak tepat jika ada pihak-pihak tertentu mengait2kan remisi apalagi abolisi pada Jeung Sri, karena beliau tidak atau belum divonis secara hukum. KPK aja setengah mati nyari2 kesalahannya, sebagaimana jawaban ‘AA’ Chandra yang mengakui tingkat kesulitan dalam penyelidikan kasus Bank Century sangat tinggi susah pembuktiannya.
Kemungkinan kedua:
Gaji di bank dunia lumayan gede bozz, sekitar Rp 3 milyar setahun atau Rp 250 juta sebulan, diluar tunjangan ini itu. Kalo dia kaya karena kerja di luar pemerintahan, ngga bakalan jadi bahan omongan. Tapi kalo masih jadi menteri maka akan jadi sorotan publik kalau dia tiba-tiba kaya raya, tul ga?
Selain itu, gengsi sebagai Managing Director Bank Dunia bisa jadi, bisa juga engga, dianggap lebih bergengsi daripada jadi menteri karena menteri, apalagi negara berkembang, akan selalu berada ‘dibawah’ posisi Bank Dunia. dalam arti, si menterilah yg harus ‘mengemis’ pada Bank Dunia, tidak sebaliknya.
Sebenarnya, Jeung Sri jadi direktur Bank Dunia atau tidak, pandangan dunia terhadap Indonesia engga akan berubah drastis, dan ga akan membuat dunia melihat bahwa orang indonesia itu pinter-pinter atau ada yang pinter, ga bakalan!
Engga percaya dengan analisa saya? Coba inget-inget, Kofi Annan itu berasal dari mana? Yup, saya perkirakan 90% yang pernah dengar nama ini, engga tau,ga inget, bahkan ga peduli si Kofi kafal afi ini siapa, asalnya dari mana. Bahkan kalopun saya ingatkan bahwa dia adalah mantan Sekjen PBB yang berasal dari Ghana, 99% dari yg 90% itu juga kemungkinan engga tau negara itu ada di sebelah mana di peta. Yang kebanyakan orang tau, Kofi berasal dari negara Afrika karena kulitnya item luar biasa, that’s all hehe…
Apakah posisi sebagai Sekjen PBB itu bergengsi? Ya iyalah, masa iya iya dong. Bahkan bisa jadi lebih bergengsi dan terkenal daripada posisi direktur Bank Dunia. Nah, sekarang coba tanya diri sendiri, apakah gara2 Kofi Annan jadi sekjen PBB maka kita melihat Ghana sebagai negara yg hebat dan rakyatnya pinter2?
Rakyat Ghana boleh-boleh aja bangga putra bangsanya jadi salah satu orang paling penting dan powerful di dunia. Tapi bagi masyarakat di luar Ghana, tidak serta merta membuat harum bangsanya hanya karena ada warganya yang jadi Sekjen PBB. Wah jadi ngelantur kemana mana nih
hehe…
Selanjutnya kemungkinan ketiga, Jeung Sri sadar kesalahannya cepat ato lambat bakal muncul ke permukaan, lalu mencoreng muka dia. Ibarat menepuk air didulang terpercik muka sendiri. Saya bukan tipikal orang yang suka mengkultuskan manusia bahkan nabi sekalipun, sampe nggak bisa melihat kelemahan/kejelekan orang tersebut.
Ketika jeung Sri melakukan ‘kesilapan’ dalam kasus Bank Century atau menggaji lebih tinggi pegawai ditjen pajak kayak Gayus yang tetep pada maling itu misalnya, ya mesti saya bilang bahwa dia saat itu bodoh. Orang pinter sekali kali melakukan hal yg bodo ya manusiawi aja.
Sekarang ketauan kalo Sri pernah “membebaskan” Paulus Tumewu ,engga tau ini Cina apa bukan yang jelas dia iparnya Edi Tansil, dari jeratan hukum. Paulus tumewu ini awalnya ngemplang pajak 80 milyar, tiba-tiba menyusut jadi tinggal 7 milyar. Kasusnya udah P-21, ini bukan kode metromini loh bang! artinya sudah layak dan harus disidangkan. Tiba-tiba datang surat dari Sri yang minta Jaksa Agung membebaskan ‘prophet’ paulus. Kasus ini luput dari media hingga ketua asosiasi pembayar pajak or whatever the name is, membongkarnya baru2 ini. Jadi, daripada tambah berdarah2, mendingan segera kabur dari indonesia dan ngantor di Washington DC. Manusiawi lah, karena dia ternyata ya manusia biasa2 juga seperti orang kebanyakan, yang selalu mengedepankan apa yang terbaik buat dirinya.
Jadi energi untuk bangga pada Sri sehubungan dengan jabatan barunya sebaiknya disimpen aja. Karena selain ga akan pengaruh apa-apa buat Indonesia, apa yg dilakukan Sri itu murni untuk kepentingan pribadi dan keluarganya dan sekali lagi, itu sangat manusiawi. Masalah kasusnya ada atau engga, buat saya pengusutan lewat mekanisme hukum harus digunakan untuk menjawabnya. Persoalan itu lebih penting ketimbang sosok seorang manusia bernama Sri Mulyani .
Kemungkinan yang keempat adalah dia engga punya pendukung sekelas laskar FPI. SileBaY ternyata mengkeret dan mengorbankan dia, dengan tindakan ini maka Sri ditingal sendirian di belantara hutan rimba dan ini keberhasilan DPR yang sedang mengulirkan hak angket yang bisa mengorbankan jabatan Presiden. SileBaY ini pemimpin yang hanya berfikir untuk keselamatan diri sendiri dan dengan mudahnya menarik tanggungjawabnya. Bagaimana dengan rakyat biasa kebanyakan jika dengan pembantunya sendiri bisa bersikap demikian?
Saya berharap Jeung Sri tetap disidang biar ketauan belang Bossnya. Kalo dikatakan Sri Mulyani itu putri terbaik bangsa yang diobok-obok, maka saya bilang yang ngobok-obok pertama kali itu ya bossnya. Dia orangnya yang pantas dikasi pelajaran. Bahwa jeung Sri dan Mr. Boed dikategorikan bersalah dalam kasus Bank Century biarin hukum yang menentukan.


wah,, postingan yang bagus.
silahkan kunjungi blog kami di http://hilmtinfo.wordpress.com
Posted by HilMy !nfo | Mei 29, 2010, 11:18